Surabaya, 26 Juni 2026 – Puluhan peserta dari berbagai ragam disabilitas mengikuti Pelatihan Digital Marketing Inklusif yang digelar di Balai Diklat Industri (BDI) Surabaya selama tiga hari dua malam. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Galeri Disabilitas Kinasih dan Upt (GADISku), dan Plan International Indonesia sebagai upaya memperkuat pemberdayaan ekonomi yang inklusif melalui peningkatan keterampilan digital.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan digital marketing yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri saat ini. Selain memperoleh materi teknis, peserta juga didorong untuk mengembangkan kepercayaan diri, kreativitas, serta kemampuan membangun jejaring profesional.
Kepala Balai Diklat Industri Surabaya, Wido, menegaskan bahwa penguasaan teknologi digital kini menjadi kebutuhan utama di berbagai sektor. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh peserta memanfaatkan kesempatan pelatihan sebaik mungkin dengan aktif belajar, berdiskusi, dan memperluas wawasan.
“Manfaatkan pelatihan ini untuk terus bereksplorasi, bertanya, dan membangun jaringan. Kompetensi digital akan menjadi bekal penting dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin dinamis,” ujarnya.
Bapak Raharjo Prionggo selaku Project Manager – Futuremakers Youth Employability Programme Plan Indonesia, menjelaskan bahwa organisasinya berkomitmen mendukung peningkatan kesiapan kerja generasi muda melalui program Youth Employment and Entrepreneurship (YEE). Menurutnya, digital marketing menjadi salah satu bidang yang memiliki peluang besar bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan karier maupun membangun usaha secara mandiri.
“Dengan keterampilan digital yang tepat, penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam dunia kerja maupun menciptakan peluang usaha baru,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Dra. Restu Novi Widiani, M.M., mengungkapkan bahwa berdasarkan data TSEN, jumlah penyandang disabilitas di Jawa Timur mencapai lebih dari 1,8 juta jiwa, meskipun masih banyak yang belum terdata secara menyeluruh. Ia menilai masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja di berbagai perusahaan dengan kompetensi yang dimiliki oleh penyandang disabilitas.
Menurutnya, pelatihan seperti ini menjadi salah satu langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Selain meningkatkan kompetensi peserta, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif, sehingga penyandang disabilitas memiliki akses yang lebih luas terhadap peluang kerja dan kewirausahaan.
Melalui sinergi antara pemerintah, lembaga pelatihan, organisasi masyarakat, dan mitra pembangunan, Pelatihan Digital Marketing Inklusif diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat kemandirian ekonomi penyandang disabilitas sekaligus mendorong terwujudnya pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Jawa Timur.




